Jalan Menuju Iman: Allah Tuhanku

| |


"Kenapa Tuhanku Allah? bukan Sang Budha Gautama yang disembah oleh
orang Budha, atau Yesus Kristus tuhannya orang Kristen, atau Sang
Hyang Widi yang dijadikan Tuhan oleh para penganut Kepercayaan ataupun
Causa Prima,/Sang Maha Mutlak tuhannya sebagian para cendikiawan dan
sebagian para filosof, atau, kenapa pula aku tidak menjadi orang ateis
yang mengingkari adanya tuhan?" 

Sekiranya terbetik
pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita berkenaan dengan perkara diatas,
hal itu merupakan sesuatu yang wajar dikarenakan itu adalah perkara
akidah. Pertanyaan di atas terkesan sederhana, namun apabila kita kaji
dan telusuri litelatur yang bertebaran di muka bumi ini, akan kita
temukan para filosof, kaum cerdik pandai hingga para ulama yang
ternyata energinya tersedot untuk mencoba menjawab pertanyaan diatas.
Adakah Tuhan? 
Untuk menjawab mengapa tuhan itu Allah SWT, kiranya
perlu dibuktikan terlebih dahulu benarkah tuhan itu ada?

Bukti bahwa
segala sesuatu mengharuskan adanya Pencipta yang menciptakannya,
sesungguhnya dapat diterangkan sebagai berikut: 

Bahwa segala sesuatu
yang dapat dijangkau oleh akal, terbagi dalam tiga unsur, yaitu;
manusia, alam semesta dan hidup (nyawa/biotik). Ketiga unsur ini
bersifat terbatas, lemah, serba kurang, serta saling membutuhkan
antara satu dengan lainnya.

Misalnya manusia. Manusia terbatas
sifatnya, karena ia tumbuh dan berkembang sampai pada batas tertentu
yang tidak dapat dilampuinya lagi. Karena itu, jelaslah bahwa manusia
bersifat terbatas. 

Begitu pula halnya dengan hidup (nyawa/biotik).
Juga bersifat terbatas. Sebab, penampakannya bersifat individual
semata. Bahkan, apa yang kita saksikan selalu menunjukkan bahwa hidup
ini berakhir pada satu individu itu saja. Dengan demikian, jelas bahwa
hidup itu bersifat terbatas. 

Alam semesta pun demikian, memiliki
sifat terbatas. Sebab, alam semesta merupakan himpunan dari
benda-benda angkasa, yang setiap bendanya memiliki keterbatasan.
Sedangkan himpunan segala sesuatu yang terbatas, tentu terbatas pula
sifatnya. Jadi, alam semestapun bersifat terbatas. Kini jelaslah bagi
kita bahwa manusia, hidup (nyawa/biotik) dan alam semesta, ketiganya
bersifat terbatas. 


Apabila kita melihat kepada segala sesuatu yang
bersifat terbatas, bisa kita simpulkan bahwa ia tidak "azali", tidak
berawal dan tidak ber­akhir. Sebab bila ia bersifat azali, tentu tidak
mempunyai keterbatasan. Dengan demikian jelaslah bahwa segala hal yang
terbatas pasti diciptakan oleh ''sesuatu yang lain''. ''Sesuatu yang
lain'' inilah yang disebut Al Khaliq. Dialah yang menciptakan manusia,
hidup dan alam semesta.

Siapakah Tuhan?
Manusia, hidup dan alam
semesta bersifat terbatas. Sesuatu bersifat terbatas pastilah ada yang
membuatnya. Sesuatu yang terbatas itu dinamakan dengan makhluk. Maka
Manusia, hidup dan alam semesta adalah makhluk. Lalu siapakah yang
menciptakan makhluk? Dia adalah sang Pencipta, Al Khalik.

Dalam
menentukan keberadaan Pencipta ini akan kita dapati tiga kemungkinan.

Pertama, Ia diciptakan oleh yang lain. 
Kedua, Ia mencip­takan
diriNya sendiri. 
Ketiga, Ia bersifat azali-tidak berawal dan
berakhir- dan wajibul wujud -wajib adanya. 

Kemungkinan pertama bahwa
Ia diciptakan oleh yang lain adalah kemungkinan yang bathil, tidak
dapat diterima oleh akal. Sebab, bila benar demikian, tentulah Ia
bersifat terbatas, ada yang menentukan awalnya. 

Begitu pula dengan
kemungkinan kedua, yang menyatakan bahwa Ia menciptakan diriNya
sendiri. Sebab, bila demikian berarti Dia sebagai makhluk dan Khaliq
pada saat yang bersamaan. Suatu hal yang jelas-jelas tidak dapat
diterima. 

Yang tepat Al Khaliq ini haruslah bersifat azali dan
wajibul wujud. Dan Islam menyebut Al Khalik ini dengan sebuah nama
khusus yaitu Allah SWT.

0 komentar:

.

1/21/2008

Jalan Menuju Iman: Allah Tuhanku


"Kenapa Tuhanku Allah? bukan Sang Budha Gautama yang disembah oleh
orang Budha, atau Yesus Kristus tuhannya orang Kristen, atau Sang
Hyang Widi yang dijadikan Tuhan oleh para penganut Kepercayaan ataupun
Causa Prima,/Sang Maha Mutlak tuhannya sebagian para cendikiawan dan
sebagian para filosof, atau, kenapa pula aku tidak menjadi orang ateis
yang mengingkari adanya tuhan?" 

Sekiranya terbetik
pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita berkenaan dengan perkara diatas,
hal itu merupakan sesuatu yang wajar dikarenakan itu adalah perkara
akidah. Pertanyaan di atas terkesan sederhana, namun apabila kita kaji
dan telusuri litelatur yang bertebaran di muka bumi ini, akan kita
temukan para filosof, kaum cerdik pandai hingga para ulama yang
ternyata energinya tersedot untuk mencoba menjawab pertanyaan diatas.
Adakah Tuhan? 
Untuk menjawab mengapa tuhan itu Allah SWT, kiranya
perlu dibuktikan terlebih dahulu benarkah tuhan itu ada?

Bukti bahwa
segala sesuatu mengharuskan adanya Pencipta yang menciptakannya,
sesungguhnya dapat diterangkan sebagai berikut: 

Bahwa segala sesuatu
yang dapat dijangkau oleh akal, terbagi dalam tiga unsur, yaitu;
manusia, alam semesta dan hidup (nyawa/biotik). Ketiga unsur ini
bersifat terbatas, lemah, serba kurang, serta saling membutuhkan
antara satu dengan lainnya.

Misalnya manusia. Manusia terbatas
sifatnya, karena ia tumbuh dan berkembang sampai pada batas tertentu
yang tidak dapat dilampuinya lagi. Karena itu, jelaslah bahwa manusia
bersifat terbatas. 

Begitu pula halnya dengan hidup (nyawa/biotik).
Juga bersifat terbatas. Sebab, penampakannya bersifat individual
semata. Bahkan, apa yang kita saksikan selalu menunjukkan bahwa hidup
ini berakhir pada satu individu itu saja. Dengan demikian, jelas bahwa
hidup itu bersifat terbatas. 

Alam semesta pun demikian, memiliki
sifat terbatas. Sebab, alam semesta merupakan himpunan dari
benda-benda angkasa, yang setiap bendanya memiliki keterbatasan.
Sedangkan himpunan segala sesuatu yang terbatas, tentu terbatas pula
sifatnya. Jadi, alam semestapun bersifat terbatas. Kini jelaslah bagi
kita bahwa manusia, hidup (nyawa/biotik) dan alam semesta, ketiganya
bersifat terbatas. 


Apabila kita melihat kepada segala sesuatu yang
bersifat terbatas, bisa kita simpulkan bahwa ia tidak "azali", tidak
berawal dan tidak ber­akhir. Sebab bila ia bersifat azali, tentu tidak
mempunyai keterbatasan. Dengan demikian jelaslah bahwa segala hal yang
terbatas pasti diciptakan oleh ''sesuatu yang lain''. ''Sesuatu yang
lain'' inilah yang disebut Al Khaliq. Dialah yang menciptakan manusia,
hidup dan alam semesta.

Siapakah Tuhan?
Manusia, hidup dan alam
semesta bersifat terbatas. Sesuatu bersifat terbatas pastilah ada yang
membuatnya. Sesuatu yang terbatas itu dinamakan dengan makhluk. Maka
Manusia, hidup dan alam semesta adalah makhluk. Lalu siapakah yang
menciptakan makhluk? Dia adalah sang Pencipta, Al Khalik.

Dalam
menentukan keberadaan Pencipta ini akan kita dapati tiga kemungkinan.

Pertama, Ia diciptakan oleh yang lain. 
Kedua, Ia mencip­takan
diriNya sendiri. 
Ketiga, Ia bersifat azali-tidak berawal dan
berakhir- dan wajibul wujud -wajib adanya. 

Kemungkinan pertama bahwa
Ia diciptakan oleh yang lain adalah kemungkinan yang bathil, tidak
dapat diterima oleh akal. Sebab, bila benar demikian, tentulah Ia
bersifat terbatas, ada yang menentukan awalnya. 

Begitu pula dengan
kemungkinan kedua, yang menyatakan bahwa Ia menciptakan diriNya
sendiri. Sebab, bila demikian berarti Dia sebagai makhluk dan Khaliq
pada saat yang bersamaan. Suatu hal yang jelas-jelas tidak dapat
diterima. 

Yang tepat Al Khaliq ini haruslah bersifat azali dan
wajibul wujud. Dan Islam menyebut Al Khalik ini dengan sebuah nama
khusus yaitu Allah SWT.

Tidak ada komentar: