Manusia oleh Allah SWT dilahirkan dengan insting atau naluri untuk
beribadah; mensucikan kepada 'sesuatu'. Baik itu manusia yang terlahir
di zaman Nabi Adam, zaman pertengahan maupun yang terlahir di akhir
zaman kelak. Apakah ia orang Timur maupun Barat,berjenis laki-laki
atau perempuan, orang kaya atau miskin, sudah tua maupun masih muda,
pastilah ada keinginan untuk mentasbihkan 'sesuatu'. Insting atau
naluri untuk beribadah atau mensucikan dirinya atau merendahkan diri
kepada 'sesuatu' itu Dienamakan dengan gharizatun tadayun. Sedangkan
yang dimaksud dengan 'sesuatu' itu adalah pencipta manusia, tuhan.
Representasi dari adanya gharizatun tadayun dalam diri setiap manusia
ini, manusia selanjutnya akan beragama, meskipun tidak setiap manusia
memeluk suatu agama. Adanya orang memeluk agama Hindu, Budha, Kristen,
Islam serta aliran-aliran kepercayaan merupakan bukti dari adanya
gharizatun tadayun pada diri manusia ini. Begitupun dengan Ateis yang
menolak untuk memeluk suatu agama, mereka beragama dengan mendudukan
akal sebagai tuhannya.
Agama, Religi dan Dien
Agama, Religi atau
Dien (Pada umumnya) adalah satu sistema credo ( tata keimanan atau
tata keyakinan) atas adanya sesuatu yang mutlak di luar manusia kepada
yang dianggapnya Yang Mutlak itu, serta sistema norma (tata-kaidah)
yang mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan
manusia dengan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan
dan tata peribadatan tersebut.(Wawasan islam, hal 11)
Agama, Religi
dan Dien masing-masing mempunyai arti etimologis sendiri-sendiri,
masing-masing mempunyai riwayat dan sejarahnya sendiri-sendiri. Akan
tetapi dalam arti teknis terminologis ketiga istilah itu mempunyai
inti makna yang sama.
Dalam Al Qur'an Surat Al Kaafirun ayat 6 Allah
swt berfirman :
"Lakum Dienukum waliya-Dieni", "Bagi kamu Dien kamu
dan bagiku Dien Ku"
Ayat di atas menginformasikan bahwa selain ada
Dien al-islam, di zaman nabi pun ada Dien yang lain. Di ayat lain kita
juga bisa menemukan Dien ini bisa juga disetarakan dengan agama, yaitu
dalam Al Qur'an Surat as-Shaf ayat 9 :
Huwa 'ladzi arsala Rasulahu
bil Huda wa Dienil Haq liyudhirahu 'ala Dieni kulihi wa lau kariha
Musyrikun, . "Dialah yang telah mengutus Rasulnya dengan membawa al
Huda (Hidayah) dan Dien al Haqq (Dien Kebenaran), buat
mengunggulkannya atas Dien-Dien semuanya, walau kaum musyrikin
membencinya."
Kita juga bisa melihat bahwa agama itu sama dengan
Religi serta Dien dari istilah-istilah yang sering kita gunakan
seperti PerbanDiengan agama (bahasa Indonesia) = comparison of
religions (bahasa inggris) = muqaranatu 'l-Adyan (bahasa arab; Adyan
adalah bentuk jamak daripada Dien).
Berdasarkan pemaparan di atas,
dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Agama adalah ekuivalen (muradif)
dengan Dien, serta yang disebut Dien bukan hanya Islam,tetapi juga
selain daripada Islam.
Orang yang berpendapat bahwa Dien itu lebih
luas daripada Agama, apabila menilik pemaparan di atas tampaknya
kurang tepat, baik ditinjau dari segi ilmiah,maupun ditilik dari segi
Dieniyah. Yang paling tepat ialah Agama (Dien) Islam itu jauh lebih
luas daripada Agama (Dien) lainnya.
Agama Thabii dan Agama Samawi
Dien atau Agama pada garis besarnya dapat dibeda-bedakan atas dua
bagian besar :
a. Agama Thabii (Agama Bumi,Agama Filsafat, Agama
Budaya, Natural Religion, Dienu't Thabii,Dienu l'-Ardhi);
b. Agama
Samawi (Agama Langit,Agama wahyu,Agama Profetis, Revealed Religion,
Dienu's-Samawi)
Islam adalah satu-satunya Agama Samawi, Agama
sepanjang zaman, Agama semua Nabi-nabi; Adam,Nuh, Ibrahim, Musa,
Zakariya, Yahya dan Isa as serta Nabi Muhammad saw. ( Qs. 2:130; 3:52;
4:163-165, 170; 5 :12, 44-47, 68-70; 10 : 84; 12: 101; 61:5,6).


Makna Agama
|
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.
1/04/2008
Makna Agama
Manusia oleh Allah SWT dilahirkan dengan insting atau naluri untuk
beribadah; mensucikan kepada 'sesuatu'. Baik itu manusia yang terlahir
di zaman Nabi Adam, zaman pertengahan maupun yang terlahir di akhir
zaman kelak. Apakah ia orang Timur maupun Barat,berjenis laki-laki
atau perempuan, orang kaya atau miskin, sudah tua maupun masih muda,
pastilah ada keinginan untuk mentasbihkan 'sesuatu'. Insting atau
naluri untuk beribadah atau mensucikan dirinya atau merendahkan diri
kepada 'sesuatu' itu Dienamakan dengan gharizatun tadayun. Sedangkan
yang dimaksud dengan 'sesuatu' itu adalah pencipta manusia, tuhan.
Representasi dari adanya gharizatun tadayun dalam diri setiap manusia
ini, manusia selanjutnya akan beragama, meskipun tidak setiap manusia
memeluk suatu agama. Adanya orang memeluk agama Hindu, Budha, Kristen,
Islam serta aliran-aliran kepercayaan merupakan bukti dari adanya
gharizatun tadayun pada diri manusia ini. Begitupun dengan Ateis yang
menolak untuk memeluk suatu agama, mereka beragama dengan mendudukan
akal sebagai tuhannya. Agama, Religi dan Dien Agama, Religi atau
Dien (Pada umumnya) adalah satu sistema credo ( tata keimanan atau
tata keyakinan) atas adanya sesuatu yang mutlak di luar manusia kepada
yang dianggapnya Yang Mutlak itu, serta sistema norma (tata-kaidah)
yang mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan
manusia dengan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan
dan tata peribadatan tersebut.(Wawasan islam, hal 11) Agama, Religi
dan Dien masing-masing mempunyai arti etimologis sendiri-sendiri,
masing-masing mempunyai riwayat dan sejarahnya sendiri-sendiri. Akan
tetapi dalam arti teknis terminologis ketiga istilah itu mempunyai
inti makna yang sama. Dalam Al Qur'an Surat Al Kaafirun ayat 6 Allah
swt berfirman : "Lakum Dienukum waliya-Dieni", "Bagi kamu Dien kamu
dan bagiku Dien Ku" Ayat di atas menginformasikan bahwa selain ada
Dien al-islam, di zaman nabi pun ada Dien yang lain. Di ayat lain kita
juga bisa menemukan Dien ini bisa juga disetarakan dengan agama, yaitu
dalam Al Qur'an Surat as-Shaf ayat 9 : Huwa 'ladzi arsala Rasulahu
bil Huda wa Dienil Haq liyudhirahu 'ala Dieni kulihi wa lau kariha
Musyrikun, . "Dialah yang telah mengutus Rasulnya dengan membawa al
Huda (Hidayah) dan Dien al Haqq (Dien Kebenaran), buat
mengunggulkannya atas Dien-Dien semuanya, walau kaum musyrikin
membencinya." Kita juga bisa melihat bahwa agama itu sama dengan
Religi serta Dien dari istilah-istilah yang sering kita gunakan
seperti PerbanDiengan agama (bahasa Indonesia) = comparison of
religions (bahasa inggris) = muqaranatu 'l-Adyan (bahasa arab; Adyan
adalah bentuk jamak daripada Dien). Berdasarkan pemaparan di atas,
dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Agama adalah ekuivalen (muradif)
dengan Dien, serta yang disebut Dien bukan hanya Islam,tetapi juga
selain daripada Islam. Orang yang berpendapat bahwa Dien itu lebih
luas daripada Agama, apabila menilik pemaparan di atas tampaknya
kurang tepat, baik ditinjau dari segi ilmiah,maupun ditilik dari segi
Dieniyah. Yang paling tepat ialah Agama (Dien) Islam itu jauh lebih
luas daripada Agama (Dien) lainnya. Agama Thabii dan Agama Samawi
Dien atau Agama pada garis besarnya dapat dibeda-bedakan atas dua
bagian besar : a. Agama Thabii (Agama Bumi,Agama Filsafat, Agama
Budaya, Natural Religion, Dienu't Thabii,Dienu l'-Ardhi); b. Agama
Samawi (Agama Langit,Agama wahyu,Agama Profetis, Revealed Religion,
Dienu's-Samawi) Islam adalah satu-satunya Agama Samawi, Agama
sepanjang zaman, Agama semua Nabi-nabi; Adam,Nuh, Ibrahim, Musa,
Zakariya, Yahya dan Isa as serta Nabi Muhammad saw. ( Qs. 2:130; 3:52;
4:163-165, 170; 5 :12, 44-47, 68-70; 10 : 84; 12: 101; 61:5,6).
beribadah; mensucikan kepada 'sesuatu'. Baik itu manusia yang terlahir
di zaman Nabi Adam, zaman pertengahan maupun yang terlahir di akhir
zaman kelak. Apakah ia orang Timur maupun Barat,berjenis laki-laki
atau perempuan, orang kaya atau miskin, sudah tua maupun masih muda,
pastilah ada keinginan untuk mentasbihkan 'sesuatu'. Insting atau
naluri untuk beribadah atau mensucikan dirinya atau merendahkan diri
kepada 'sesuatu' itu Dienamakan dengan gharizatun tadayun. Sedangkan
yang dimaksud dengan 'sesuatu' itu adalah pencipta manusia, tuhan.
Representasi dari adanya gharizatun tadayun dalam diri setiap manusia
ini, manusia selanjutnya akan beragama, meskipun tidak setiap manusia
memeluk suatu agama. Adanya orang memeluk agama Hindu, Budha, Kristen,
Islam serta aliran-aliran kepercayaan merupakan bukti dari adanya
gharizatun tadayun pada diri manusia ini. Begitupun dengan Ateis yang
menolak untuk memeluk suatu agama, mereka beragama dengan mendudukan
akal sebagai tuhannya. Agama, Religi dan Dien Agama, Religi atau
Dien (Pada umumnya) adalah satu sistema credo ( tata keimanan atau
tata keyakinan) atas adanya sesuatu yang mutlak di luar manusia kepada
yang dianggapnya Yang Mutlak itu, serta sistema norma (tata-kaidah)
yang mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan
manusia dengan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan
dan tata peribadatan tersebut.(Wawasan islam, hal 11) Agama, Religi
dan Dien masing-masing mempunyai arti etimologis sendiri-sendiri,
masing-masing mempunyai riwayat dan sejarahnya sendiri-sendiri. Akan
tetapi dalam arti teknis terminologis ketiga istilah itu mempunyai
inti makna yang sama. Dalam Al Qur'an Surat Al Kaafirun ayat 6 Allah
swt berfirman : "Lakum Dienukum waliya-Dieni", "Bagi kamu Dien kamu
dan bagiku Dien Ku" Ayat di atas menginformasikan bahwa selain ada
Dien al-islam, di zaman nabi pun ada Dien yang lain. Di ayat lain kita
juga bisa menemukan Dien ini bisa juga disetarakan dengan agama, yaitu
dalam Al Qur'an Surat as-Shaf ayat 9 : Huwa 'ladzi arsala Rasulahu
bil Huda wa Dienil Haq liyudhirahu 'ala Dieni kulihi wa lau kariha
Musyrikun, . "Dialah yang telah mengutus Rasulnya dengan membawa al
Huda (Hidayah) dan Dien al Haqq (Dien Kebenaran), buat
mengunggulkannya atas Dien-Dien semuanya, walau kaum musyrikin
membencinya." Kita juga bisa melihat bahwa agama itu sama dengan
Religi serta Dien dari istilah-istilah yang sering kita gunakan
seperti PerbanDiengan agama (bahasa Indonesia) = comparison of
religions (bahasa inggris) = muqaranatu 'l-Adyan (bahasa arab; Adyan
adalah bentuk jamak daripada Dien). Berdasarkan pemaparan di atas,
dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Agama adalah ekuivalen (muradif)
dengan Dien, serta yang disebut Dien bukan hanya Islam,tetapi juga
selain daripada Islam. Orang yang berpendapat bahwa Dien itu lebih
luas daripada Agama, apabila menilik pemaparan di atas tampaknya
kurang tepat, baik ditinjau dari segi ilmiah,maupun ditilik dari segi
Dieniyah. Yang paling tepat ialah Agama (Dien) Islam itu jauh lebih
luas daripada Agama (Dien) lainnya. Agama Thabii dan Agama Samawi
Dien atau Agama pada garis besarnya dapat dibeda-bedakan atas dua
bagian besar : a. Agama Thabii (Agama Bumi,Agama Filsafat, Agama
Budaya, Natural Religion, Dienu't Thabii,Dienu l'-Ardhi); b. Agama
Samawi (Agama Langit,Agama wahyu,Agama Profetis, Revealed Religion,
Dienu's-Samawi) Islam adalah satu-satunya Agama Samawi, Agama
sepanjang zaman, Agama semua Nabi-nabi; Adam,Nuh, Ibrahim, Musa,
Zakariya, Yahya dan Isa as serta Nabi Muhammad saw. ( Qs. 2:130; 3:52;
4:163-165, 170; 5 :12, 44-47, 68-70; 10 : 84; 12: 101; 61:5,6).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar