Swaramuslim.net
Tabligh Akbar di Masjid al-Azhar : Non-Muslim Diminta
tak Campuri
Islam
Mashadi: Pembela Aliran Sesat Lebih Bahaya Dari
Aliran Sesat
Mereka menghancurkan prinsip-prinsip dasar Islam, yakni
kebenaran akan
tauhid kepada Allah, dengan dalih pluralisme agama
Para pembela aliran sesat lebih berbahaya dibanding aliran sesat itu
sendiri. Demikian pernyaan yang disampaikan Ketua Forum Umat Islam
(FUI), Mashadi. "Para pembela aliran sesat lebih berbahaya dari aliran
sesat itu sendiri." Mashadi menyampaikan ini di sela acara tabligh
akbar yang berlangsung di Masjid Agung al-Azhar, Kebayoran Baru,
Jakarta, (10/1 ) siang kemarin.
Mashadi melanjutkan, para aktivis
liberal dan Kristen yang berdiri di
belakang aliran sesat Ahmadiyah
sedang berusaha menghancurkan prinsip-
prinsip dasar Islam. Mereka
berkoar-koar meneriakkan prinsip
plurarisme agama, hingga mengatakan
tidak adanya kebenaran mutlak.
Jadi menurut mereka umat Islam tidak
berhak mengaku paling benar.
Mashadi melanjutkan, adanya kelompok
minoritas yang mendukung aliran
sesat Ahmadiyah dikarenakan
kepentingan yang sama di antara mereka.
"Mereka ingin tetap eksis.
Mereka takut jika Ahmadiyah dibubarkan akan
berimplikasi terhadap
(eksistensi) mereka," kata Mashadi.
Dia juga mengatakan, Ahmadiyah
adalah aliran sempalan yang dibentuk
oleh pemerintah Inggris untuk
melemahkan semangat jihad Muslim India.
Dengan adanya aliran-aliran
sesat seperti ini, maka umat Islam akan
terpecah belah hingga
menimbulkan ketergantungan kepada penjajah.
Jangan Takut Penjara
Sementara itu, Munarman, Ketua Tim Advokasi FUI, mengatakan, para
aktivis HAM pembela aliran sesat tidak bisa dipercaya secara akhlak
maupun akidah. Dia mensinyalir sejumlah nama, seperti pengacara senior
yang juga sesepuh YLBHI, Adnan Buyung Nasution.
Munarman juga
mengajak umat Islam untuk mengawasi keputusan Kejaksaan
tentang
Ahmadiyah tanggal 15 Januari nanti. Dia mengajak umat untuk
melakukan
aksi jika keputusan Kejaksaan Agung nanti tidak menyalahkan
dan
melarang Ahmadiyah.
"Jangan takut dipenjara," sahut Munarman yang
disambut takbir para
jamaah yang memenuhi Masjid Agung al-Azhar.
Turut berbicara dalam acara yang bertema "Hijrah menuju Indonesia yang
lebih Baik" itu antara lain; Ahmad Sumargono, Amin Djamaluddin (LPPI),
Jafar Shodiq (FPI), Zahir Khan (DDII), serta sejumlah perwakilan
ormas-
ormas Islam lainnya. [Surya/www.hidayatullah.com]


Mashadi: Pembela Aliran Sesat Lebih Bahaya Dari Aliran Sesat
.
1/15/2008
Mashadi: Pembela Aliran Sesat Lebih Bahaya Dari Aliran Sesat
tak Campuri Islam Mashadi: Pembela Aliran Sesat Lebih Bahaya Dari
Aliran Sesat Mereka menghancurkan prinsip-prinsip dasar Islam, yakni
kebenaran akan tauhid kepada Allah, dengan dalih pluralisme agama
Para pembela aliran sesat lebih berbahaya dibanding aliran sesat itu
sendiri. Demikian pernyaan yang disampaikan Ketua Forum Umat Islam
(FUI), Mashadi. "Para pembela aliran sesat lebih berbahaya dari aliran
sesat itu sendiri." Mashadi menyampaikan ini di sela acara tabligh
akbar yang berlangsung di Masjid Agung al-Azhar, Kebayoran Baru,
Jakarta, (10/1 ) siang kemarin. Mashadi melanjutkan, para aktivis
liberal dan Kristen yang berdiri di belakang aliran sesat Ahmadiyah
sedang berusaha menghancurkan prinsip- prinsip dasar Islam. Mereka
berkoar-koar meneriakkan prinsip plurarisme agama, hingga mengatakan
tidak adanya kebenaran mutlak. Jadi menurut mereka umat Islam tidak
berhak mengaku paling benar. Mashadi melanjutkan, adanya kelompok
minoritas yang mendukung aliran sesat Ahmadiyah dikarenakan
kepentingan yang sama di antara mereka. "Mereka ingin tetap eksis.
Mereka takut jika Ahmadiyah dibubarkan akan berimplikasi terhadap
(eksistensi) mereka," kata Mashadi. Dia juga mengatakan, Ahmadiyah
adalah aliran sempalan yang dibentuk oleh pemerintah Inggris untuk
melemahkan semangat jihad Muslim India. Dengan adanya aliran-aliran
sesat seperti ini, maka umat Islam akan terpecah belah hingga
menimbulkan ketergantungan kepada penjajah. Jangan Takut Penjara
Sementara itu, Munarman, Ketua Tim Advokasi FUI, mengatakan, para
aktivis HAM pembela aliran sesat tidak bisa dipercaya secara akhlak
maupun akidah. Dia mensinyalir sejumlah nama, seperti pengacara senior
yang juga sesepuh YLBHI, Adnan Buyung Nasution. Munarman juga
mengajak umat Islam untuk mengawasi keputusan Kejaksaan tentang
Ahmadiyah tanggal 15 Januari nanti. Dia mengajak umat untuk melakukan
aksi jika keputusan Kejaksaan Agung nanti tidak menyalahkan dan
melarang Ahmadiyah. "Jangan takut dipenjara," sahut Munarman yang
disambut takbir para jamaah yang memenuhi Masjid Agung al-Azhar.
Turut berbicara dalam acara yang bertema "Hijrah menuju Indonesia yang
lebih Baik" itu antara lain; Ahmad Sumargono, Amin Djamaluddin (LPPI),
Jafar Shodiq (FPI), Zahir Khan (DDII), serta sejumlah perwakilan
ormas- ormas Islam lainnya. [Surya/www.hidayatullah.com]
1 komentar:
- Anonim mengatakan...
-
Posting yang bagus sekali.
Memang organisasi-organisasi muslim yang bringas didukung oleh oknum-oknum kepolisian & aparat keamanan pemerintah.
Sudah sering terjadi pengerusakan rumah-rumah ibadah umat lain, sweeping, fatwa-fatwa dan kekerasan lainnya yang dilakukan oleh organisasi muslim terhadap umat agama lain. Sedangkan sebagian dari para preman ini adalah anggota polisi dan aparat keamanan lainnya yang berpakaian sipil. Pemerintah juga bersikap seolah-oleh memberi semangat kepada preman-preman ini sehingga mereka merasa berada di atas hukum apapun yang berlaku di negara Indonesia.
Juga anggota polisi pada umumnya hanya menonton para preman yang melakukan pengerusakan & sweeping. Anggota polisi malah melindungi oknum-oknum yang berkelakuan bringas itu.
Sedangkan polisi dan aparat keamanan pemerintah seharusnya melindungi seluruh lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan agama, kepercayaan, suku, dsb.
Kita yakin bahwa ada umat muslim yang tidak mentolerir dan tidak setuju dengan kelakuan polisi dan aparat keamanan yang secara terang-terangan memihak kepada golongan mayoritas.
Tetapi, pemerintah tidak menyadari bahwa walaupun polisi dan aparat keamanan mempunyai senjada api, tapi rakyat jelata (masyarakat muslim yang kurang simpati terhadap polisi) mumpunyai senjata yang jauh lebih ampuh dari pada senjadi api. Sejata yang ampuh ini adalah agama.
Masyarakat muslim yang tidak simpati terhadap tindakan polisi yang memihak ini bisa mengeluarkan reaksi yaitu mereka bisa meninggalkan agama Islam. Mereka bisa mengalih ke agama lain. Kalau hal ini terjadi/sedang terjadi, maka senjata api polisi itu tidak ada artinya. -
9 April 2008 pukul 21.06






1 komentar:
Posting yang bagus sekali.
Memang organisasi-organisasi muslim yang bringas didukung oleh oknum-oknum kepolisian & aparat keamanan pemerintah.
Sudah sering terjadi pengerusakan rumah-rumah ibadah umat lain, sweeping, fatwa-fatwa dan kekerasan lainnya yang dilakukan oleh organisasi muslim terhadap umat agama lain. Sedangkan sebagian dari para preman ini adalah anggota polisi dan aparat keamanan lainnya yang berpakaian sipil. Pemerintah juga bersikap seolah-oleh memberi semangat kepada preman-preman ini sehingga mereka merasa berada di atas hukum apapun yang berlaku di negara Indonesia.
Juga anggota polisi pada umumnya hanya menonton para preman yang melakukan pengerusakan & sweeping. Anggota polisi malah melindungi oknum-oknum yang berkelakuan bringas itu.
Sedangkan polisi dan aparat keamanan pemerintah seharusnya melindungi seluruh lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan agama, kepercayaan, suku, dsb.
Kita yakin bahwa ada umat muslim yang tidak mentolerir dan tidak setuju dengan kelakuan polisi dan aparat keamanan yang secara terang-terangan memihak kepada golongan mayoritas.
Tetapi, pemerintah tidak menyadari bahwa walaupun polisi dan aparat keamanan mempunyai senjada api, tapi rakyat jelata (masyarakat muslim yang kurang simpati terhadap polisi) mumpunyai senjata yang jauh lebih ampuh dari pada senjadi api. Sejata yang ampuh ini adalah agama.
Masyarakat muslim yang tidak simpati terhadap tindakan polisi yang memihak ini bisa mengeluarkan reaksi yaitu mereka bisa meninggalkan agama Islam. Mereka bisa mengalih ke agama lain. Kalau hal ini terjadi/sedang terjadi, maka senjata api polisi itu tidak ada artinya.
Posting Komentar